RSS

Berawal dari Sejarah Indonesia-Maroko

Indonesia, salah satu Negara demokrasi yang berada diwilayah asia tenggara, bagian timur dari benua asia. Sedangkan Maroko adalah Negara kerajaan yang berada di wilayah afrika utara atau bagian barat dari benua Afrika yang sering disebut dengan Maghribi (negeri matahari terbenam).

Jarak kedua Negara yang melebihi sekitar sepertiga lingkaran dunia tidak menghalangi hubungan kerjasama antara kedua Negara, bahkan hubungan tersebut telah dimulai sejak awal kemerdekaan kedua Negara tersebut. Maroko sering menyebut Indonesia sebagai “Akh Syaqiq“(Saudara kandung) dikarenakan kedekatan antara kedua Negara.

Lebih jauh hubungan Indonesia-Maroko telah terjalin sejak pertengahan abad 14 Masehi ketika musafir terkenal Ibnu Battutah melakukan perjalanan dari Maroko menuju Mesir, India, dan akhirnya tiba di Indonesia di Kerajaan Samudera Pasai, Aceh. Begitu juga Maulana Malik Ibrahim, salah satu sesepuh Wali Songo, yang lebih dikenal dengan nama “Syeikh Maghribi” juga datang dari negara ini.

Pada zaman modern, hubungan diperkuat lagi. Tahun 1955, Maroko turut aktif berperan di Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, Jawa Barat. Dan tanggal 2 Maret 1956, Maroko merupakan salah satu negara pertama di Afrika Utara yang meraih kemerdekaan dari kolonial Perancis. Empat tahun kemudian, 2 Mei 1960, Presiden Soekarno tiba di kota Rabat bertemu Raja Muhamad V. Soekarno merupakan presiden pertama yang datang ke negara itu. Ini awal hubungan diplomatik Indonesia dan Maroko. Presiden Soekarno juga dianggap sebagai pemimpin revolusi dunia yang membangkitkan semangat kemerdekaan bangsa-bangsa Asia-Afrika.

Dari kunjungan Presiden Soekarno dan hubungan persahabatan itulah yang membuat Raja Mohammed V memberi kenang-kenangan khusus bagi Soekarno yaitu penamaan jalan yang mengambil namanya yaitu Rue (jalan) Soekarno di jantung kota Rabat, ibukota kerajaan Maroko.Tidak hanya jalan Soekarno saja yang ada di kota Rabat ada lagi nama jalan yaitu Rue (jalan) Bandoeng dan jalan Jakarta.

Penamaan jalan tersebut juga membuat Presiden Soekarno mengambil nama Casabalanca yaitu kota perdagangan terpenting dan kota pelabuhan di Maroko sebagai nama jalan terpenting dan tersibuk yang ada di ibukota Negara kita yaitu Jakarta. Selain itu kota Casablanca juga adalah sister city-nya kota Jakarta. Kunjungan tersebut juga merupakan awal mulanya pendirian kedutaan besar Republik Indonesia di Rabat yang pada awalnya bertempat di Agdal. Selain itu Warga Negara Indonesia juga dibebaskan visa untuk masuk ke Negara Maroko yang bisa kita rasakan hingga sekarang terutama bagi Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Maroko.

Peristiwa 50 tahun yang lalu itu menjadi batu pijakan pertama yang menjadi landasan penting bagi para pemimpin ke dua negara untuk lebih memperkuat hubungan dan kerja sama Indonesia Maroko, baik di bidang politik, ekonomi, perdagangan, pendidikan, pariwisata dan kebudayaan.

Dalam hal pendidikan, setiap tahun Pemerintah Maroko menawarkan melalui AMCI (agen kerjasama internasional Maroko) 15 beasiswa kepada Indonesia melalui Departemen Agama. Dan mulai tahun 2010, Kementerian Wakaf dan Urusan Keislaman Maroko telah menyetujui permintaan PBNU untuk memberikan beasiswa khusus untuk putra-putri PBNU sebanyak 10-15 orang setiap tahun guna belajar di institusi pendidikan yang berada dibawah Kementerian Wakaf dan Urusan Keislaman Maroko, khususnya Universitas Qarawiyyin dan Pendidikan Tradisional (at Ta’liim al Atiiq) di masjid Qarawiyyin.

Namun sayangnya jatah yang sudah diberikan tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik oleh Indonesia, dengan tidak maksimalnya kedatangan mahasiswa Indonesia ke maroko sesuai kuota tersebut. Dan juga kurang selektifnya dalam memilih utusan-utusan penuntut ilmu, sehingga tidak sedikit yang kurang maksimal dalam belajar di negeri seribu benteng ini.

Penganut Tariqah yang berkaitan dengan tasawuf pun berkembang pesat di kedua negara. Masing-masing mempunyai tariqah yang sama seperti Tariqah Tijaniyah dan tariqah Budsyisyiah. pengikut thariqah ini di Indonesia sangatlah banyak, Setiap tahun mereka diundang ke Maroko untuk mengikuti Haul dan Muhadarah(pertemuan).

Selain dalam bidang pendidikan, dalam bidang kebudayaan pun kedua Negara telah berpartisi aktif, semakin terlihat jelas ketika Indonesia turut berpartisipasi Dalam Rangka Festival Teatre International untuk Pemuda ke XI di Taza, Maroko, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Rabat, menampilkan Sendratari Ramayana dengan berbagai macam improvisasi alias sedikit menyimpang dari aslinya. Pertama dalam sejarah, kisah Ramayana dipagelarkan dalam bahasa Arab yang di pentaskan oleh Masyarakat Indonesia di Maroko, Sebagian besar pemainnya adalah mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam wadah PPI Maroko. 

Kemudian pada Festival Music Internattional di Fes, Maroko, Dengan dukungan dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia. Indonesia menampilkan Musik Marawis yang dibawakan oleh Syubbanul Akhyar dari Cirebon, Indonesia. Gaya musik Marawis, warisan budaya sufi Yaman. Sebuah musik di persimpangan musik Arab dan musik Indonesia, segar dan sederhana dalam berekspresi yang terserap dalam music tersebut.

Semoga hubungan bilateral yang telah terjalin oleh kedua negara dapat ditingkatkan dibidang-bidang yang berpotensi seperti pariwisata, investasi, pendidikan dan budaya dengan basis sejarah dalam upaya meningkatkan hubungan antarwarga atau “people to people contacts” yang menghasilkan pengertian yang makin besar diantara kedua Negara, seperti yang telah diharapkan oleh Dubes Tosari Widjaja dalam sambutannya di resepsi peringatan 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia- Maroko.(Ba)

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada 12/09/2011 in Koleksi Beritaku, PPI Maroko

 

Tag: , , , , , , , ,

PPI Maroko Minta Pemerintah Perhatikan Mahasiswa Timteng

London (ANTARA) – Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko meminta Pemerintah RI memperhatikan kondisi mahasiswa di Timteng untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam berkiprah di Tanah Air, mengentaskan kemiskinan, dan membuka peluang kerja bagi masyarakat.

“Hal itu merupakan salah satu rumusan yang ditetapkan dalam Musyawarah Besar (Mubes) XIV PPI Maroko di Rabat, ibu kota Kerajaan Maroko,” ujar Koordinator Departemen Media dan Informasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko 2011-2012, Burhan Ali, dalam keterangan pers kepada ANTARA di London, Senin.

Melalui Musyawarah Besar ke XIV yang melibatkan segenap anggotanya menghasilkan beberapa keputusan dan rekomendasi yang mendukung pemerintah untuk menciptakan suasana demokrasi dan situasi politik yang kondusif.

Peserta Mubes XIV PPI Maroko berhasil menyusun dan menyepakati rekomendasi yang ditujukan kepada pihak-pihak terkait seperti Kemenag dan Kemendiknas dalam bidang pendidikan, Kemenbudpar dan Pemerintah demi kemajuan bangsa dan negara.

Burhan Ali mengatakan PPI Maroko mendukung langkah pemerintah dalam upaya memberantas teror, intimidasi, dan kekerasan atas nama agama yang masih marak di Tanah Air.

PPI Maroko mendukung langkah pemerintah melalui Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam memberantas korupsi yang makin menggeliat di tubuh birokrat negara dan mendorong pemerintah RI untuk proaktif dalam penyelesaian konflik regional dan internasional.

Berkaitan dengan mekanisme pendaftaran dan pengiriman mahasiswa baru ke Maroko, PPI Maroko mengimbau, khusunya Kementerian Agama, memperjelas mekanisme penyeleksian dan lebih serius penanganannya karena masih diragukan hasil seleksi mahasiswa yang dikirimkan untuk belajar di Maroko.

PPI Maroko juga mengharapkan Kemenag dan Kemendiknas untuk memperbesar peluang pertukaran pelajar Indonesia-Maroko demi meningkatkan hubungan kedua negara terutaa dalam bidang pendidikan.

Selain itu, PPI Maroko juga mengimbau pemerintah khusunya Kementerian Luar Negeri untuk meningkatkan peran diplomasi di segala aspek untuk menunjang kemajuan bangsa dan tetap menjaga nama harum bangsa Indonesia.

PPI Maroko juga mengimbau dan meminta pemerintah RI untuk serius membina dan mencari atlet dalam berbagai cabang olahraga, sehingga dapat berprestasi di tingkat nasional dan internasional serta masa depan para atlet berprestasi itu juga diperhatikan.

Selain itu, Pemerintah RI juga diharapkan lebih proaktif dalam mempromosikan pariwisata, seni dan budaya Indonesia dan menjaga hak cipta warisan seni dan budaya nusantara diberbagai belahan dunia melalui perwakilan pemerintah di luar negeri.

PPI Maroko mendukung untuk berperan aktif dalam merealisasikan perdamaian Palestina-Israel dan mengakhiri bencana kemanusiaan serta mengimbau pemerintah untuk lebih memperhatikan nasib Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri.

Rekomendasi juga ditujukan kepada instansi pemerintah Indonesia, organisasi sosial kemasyarakatan, organisasi politik dan pihak-pihak lainnya yang dianggap memiliki keterkaitan dengan isi rekomendasi ini.

Bertambahnya usia PPI Maroko menambah wawasan dan kedewasaan dalam berorganisasi. Sejak diresmikan Duta Besar RI untuk Kerajaan Maroko Dr. Boer Mauna pada tahun 1992, PPI Maroko mengalami pasang surut dalam menjalani roda keorganisasian demi kemajuan anggotanya dan untuk berkontribusi bagi bangsa dan negara tercinta Indonesia.

“Penyusunan dan pengajuan rekomendasi ini dilakukan atas dasar kepedulian, kekhawatiran, semangat dan amanat organisasi oleh segenap mahasiswa yang berada di Maroko sebagai generasi penerus bangsa yang besar; bangsa Indonesia,” demikian Burhan Ali.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12/09/2011 in Koleksi Beritaku, PPI Maroko

 

Tag: , , , , , ,

Ramadhan Dengan Spirit Sosial

Dalam hitungan hari lagi bulan ramadhan akan segera meninggalkan kita, dan kita pun tidak tahu apakah ramadhan yang akan datang masih bisa berjumpa lagi dengan bulan yang penuh hikmah tersebut.

Dikarenakan besarnya hikmah dan isi di bulan ramadhan kita pun berharap agar ramadhan ada pada tiap-tiap bulan, sebagaimana hadist rasululloh saw “Sekiranya hamba-hamba Allah itu mengetahui apa–apa yang terdapat di bulan Ramadhan, niscaya mereka akan berharap seluruh tahun isinya ramadhan”. (HR. At-Thobroni).

Namun walau bagaimanapun, bulan ramadhan akan segera berlalu tanpa memperdulikan setiap hamba yang mengharapakannya karena itu sudah ketentuan dari Yang Maha Menentukan Alloh swt.

Sebagai insan yang taat, sudah seharusnyalah bagi kita untuk tetap mengamalkan apa yang menjadi pesan dan isi dari bulan ramadhan walau bulan tersebut akan berlalu, sehingga bulan yang penuh berkah akan tetap terasa pada bulan-bulan yang lain.

Ramadhan mengajarkan kepada kita akan nilai-nilai sosial dan spirit kebersamaan yang terkandung dalam amalan-amalan baik amalan yang wajib maupun yang sunah sebagaimana yang akan kita pelajari bersama berikut ini.

Ibadah dalam syariat islam, selain berorientasi pada perbaikan diri, ibadah juga berdimensi sosial. Sholat misalnya, ibadah yang merupakan kewajiban pribadi ini harus berimbas  pada kesholihan sosial. Dalam Al-Qur’an di jelaskan bahwa “Inna sholata tanha ‘anil fahsyaai wal munkar “ (artinya: Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar). Dari ayat diatas maknanya jelas bahwa dengan sholat – jika sholatnya benar – seorang muslim akan terjaga dari kekejian dan kemunkaran.

Zakat juga demikian, ia adalah upaya pembersihan harta yang telah dirizkikan oleh Alloh kepada kita. Dengan kewajiban itu ada kaum dhu’afa yang ikut menikmati sebagian rizki dari Alloh itu. Selain berorientasi Illahiyah, zakat nyatanya juga akan mampu menghapus sekat antara kaum berpunya dan dhuafa.

Puasa pun demikian, shaum memberikan energi kepada kaum muslimin untuk lebih sensitif dalam merasakan penderitaan kaum mustadh’afin. Tidak hanya menahan haus dan lapar, menahan hawa nafsu juga meningkatkan kepiawaian muslim dalam mengelola manajemen pribadi untuk lebih cerdas menahan emosi yang berujung pada perbaikan hubungan sosial kita di tengah komunitas sosial manusia.

Dengan menghadiri majelis keilmuan, sholat tarawih berjamaah, mengikuti aneka kegiatan ifthor jama’i (buka bersama) akan membuat muslimah jadi ‘gaul’ dengan lingkungan. Nggak cuma gaul thok, tapi ikatan silaturahim juga bisa lebih dijaga. Dan ketika Ramadhan telah berlalu, nggak ada salahnya jika muslimah melanjutkan ‘tali kasih’ yang sudah terjalin itu. Apalagi, yang demikian itu merupakan salah satu dari rangkaian dakwah, yang tujuannya jelas untuk merangkul semua kalangan dalam rangka sama-sama mencari ridho Alloh swt.

Dan, secara sosial, kata Hassan Hanafi dalam al-Din wa al-Tsawrah (1990: 63), puasa melatih kepekaan atas nasib sesama yang menderita kelaparan dan kehausan. Dalam konteks itulah kita bisa memahami adanya perintah untuk mengeluarkan zakat fitrah di penghujung bulan Ramadan bahkan sejak awal memasuki Ramadhan sudah terlihat kepekaan itu dengan berbuka bersama di Masjid-masjid, di suarau, di kantor bahkan di jalan-jalan, dan semakin lama semakin terasa rasa kebersamaan, persaudaraan dan kecintaan kita pada sesama.

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga”. Mereka itu adalah orang yang telah menjadikan ibadah puasa sebagai sebuah rutinitas, tanpa ruh-spirit. Termasuk juga, mereka yang melakukan ritual puasa pribadi, tapi melupakan pesan untuk melakukan puasa sosial. Puasa yang demikian adalah puasa yang tidak sinkron dengan janji-janji ideal Islam.

Perubahan paling mencolok yang diharapkan muncul dari taqwa sebagai buah dari puasa adalah kesadaran sosial akan nasib dan penderitaan sebagian besar kelompok masyarakat yang masuk dalam kelompok fakir, miskin, dhuafa’, dan mustadh’afin. Mereka inilah kelompok yang secara sosial dan ekonomi lemah dan tidak berdaya sehingga posisi dan eksistesinya sama sekali tidak diindahkan oleh golongan masyarakat di atasnya yang memiliki lebih banyak sumber daya. Tak heran jika kelemahan ini bukan hanya bersifat duniawi berupa kekurangan pada materi, tetapi juga kekurangan ukhrawi yang membuat mereka rentan dengan kekufuran. Sabda Nabi Saw : “Kaada al-faqru an yakuuna kufran”  hampir-hampir kefakiran membawa seseorang pada kekufuran.

Dari aspek sosial, shalat berjama’ah merupakan manifestasi dari ittihadul muslim (bersatunya umat islam). Tanpa adanya pecah bela diantara mereka. Tanpa memandang derajat antara kaya dan miskin. Bersatu padu dalam komando seorang imam. Hal ini telah di gambarkan oleh  rasulullah saw ketika  mempersaudarakan para sahabat dari golongan anshar (orag-orang yang menyambut kedatangan rasulullah saw) dan golongan muhajirin (orang-orang yang hjrah bersama rasullullah saw). beliau mengatakan bahwa ukhuwah tercipta dengan adanya satu rasa sebagai saudara seiman dan seislam yang akan tumbuh secara perlahan-lahan dengan salah satu medianya berupa sholat jama’ah.

Seorang tokoh orientalis mengataan bahwa Islam akan tetap berdiri kokoh jika tiga perkara masih kokoh berdiri, yaitu sholat jumat -yang sudah barang tentu dilakukan secara berjamaah-, mekkah masih menjadi kiblat umat Islam dan puasa Ramadhan. Dari sini cukup jelas bahwa bentuk ibadah yang di lakukan secara berjama’ah merupakan basic dari pada kekuatan umat Islam.

Disamping itu, ibadah sholat yang di lakuan secara jama’ah akan menciptakan rasa  empati  terhadap sesama, hingga akhirnya tercipta sebuah rasa kasih sayang antar sesama muslim yang berawal dari ta’aruf (saling mengenal).

Sebagai gambaran nyata,  masyarakat saat ini pada umumnya  disibukan dengan berbagai aktivitas sehari-hari, sehingga untuk mengenal atau bertemu tetangganya sendiri saja serasa sulit sekali. Akan tetapi dengan adanya sholat berjama’ah seperti sholat lima waktu ataupun shalat jumaat dan shalat tarawih di bulan ramadhan maka akan memberikan solusi untuk saling mengenal dan menjalin silaturrahmi antar sesama. Dan ini merupakan yang diajarkan dalam islam, sebagaimana firman Allah swt. yang artinya, ”Dan sesungguhnya kami jadikan kalian dari berbagai kaum dan suku  agar kalian saling mengenal.” (Al Hujarat:13).

Sedangkan balasan bagi mereka yang melakuan shalat berjama’ah ialah pahala yang berlipat ganda. Sebagaimana Sabda Rasulullah saw., ”sholat berjama’ah lebih utama di banding shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (muttafaqun ‘alaih dari Ibnu umar). Hadits ini setidaknya memberikan motivasi kepada kita untuk senantiasa berlomba-lomba dalam melaksanakan ibadah  shalat secara berjama’ah.

Kesadaran sosial adalah mandat dari Yang Maha Hidup agar melakukan peran nyata yang disebut sebagai peran sosial, sebuah persembahan terbaik dalam kehidupan nyata untuk kesejahteraan masyarakat. Sebab manusia yang terbaik adalah mereka yang punya spirit memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada masyarakat.

Spirit melakukan interaksi dalam kehidupan bermasyarakat adalah agar manusia dapat memberikan yang terbaik bagi orang lain. Pengabdian hidup kepada Sang Maha Kuasa menjadi tingkatan pertama dalam tahap mencapai kecerdasan spiritual.

Nah.. di bulan yang penuh rahmat ini, segala ibadah didorong untuk lebih optimal. Artinya, karena ibadah-ibadah itu semuanya berdimensi sosial, maka harapannya seorang muslim selaku komponen dalam kehidupan masyarakat juga mampu mengambil andil dalam kebaikan di Ramadhan ini. Dan, tentunya itu harus berlanjut di bulan-bulan berikutnya. (Ba)

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28/08/2011 in Burhan Ali, Uncategorized

 

Tag: ,

Burhan Ali (lahir pada 3 Juni 1989 di Cilacap, Indonesia) adalah seorang pemerhati Indonesia, aktivis dan seorang Tholibul ‘ilmu ad-din.

Keluarga
Burhan tinggal di Mertelu, Kalisabuk, kab Cilacap bersama orang tuanya dan dan saudara-saudaranya, dan Burhan merupakan putra ke tujuh dari sembilan bersaudara.

Awal pendidikannya dimulai dari Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah (MII) Ya Bakii Kalisabuk 02, di mana ia mendapatkan pendidikan dasar tentang ilmu, akhlak dan agama. Burhan terus belajar di Mts MINAT Kesugihan, untuk mendapatkan ilmu-ilmunya dalam bidang agama dan menambah wawasannya bidang ilmu pengetahuan. Pada tahun 2007, ia lulus dari MAN Cilacap, setelah tiga tahun ia mendalamai ilmu pengetahuannya pada program penjurusan ilmu pengetahuan alam(IPA). Burhan saat ini sedang belajar di Universitas Ibn Tofail, Kenitra Maroko.

Pengalaman organisasi di mulai dari nol saat dirinya tergabung OSIS Mts Minat lalu terlibat dalam Ikatan Remaja Masjid (IRMAS) Al Istiqomah di kampungnya. Kemudian Burhan kembali terlibat di OSIS dan Kepramukaan MAN Cilacap sebagai salah satu pengurus harian sampai ia lulus.

Menanjak dari siswa biasa menjadi mahasiswa, Burhan ikut serta kembali dalam Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko, diberi amanah menjadi wakil ketua selama dua periode. PPI Maroko adalah sebuah organisasi mahasiswa yang bergerak pada bidang pendidikan, yaitu membantu para mahasiswa yang sedang belajar di negri seribu benteng agar mampu meningkatkan kapasitas inteleknya dengan mengadakan kegiatan diskusi ilmiah/panel, seminar, study tour dll.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10/06/2011 in Burhan Ali

 

PELAJAR MAROKO GELAR SEMINAR PERAN GURU

London, 8/5 (ANTARA) – Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko bekerja sama dengan KBRI Rabat mengelar seminar bertemakan “Peran Guru Dalam Membangun Tunas Bangsa” di Maroko.

Seminar yang digelar dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional 2011 itu, menampilkan pembicara Khoirur Rijal MA, dosen STAIN Lampung, dan Fakhrurrozi Muhammad Yunus MA, dosen IAIN Ar Ranieri Aceh.

Sekretaris III/Pelaksana Fungsi Pensosbud KBRI Rabat, Rahmat Azhari dalam keterangan yang diterima Antara London, Minggu menyebutkan bahwa kedua pembicara juga terdaftar sebagai mahasiswa program doktoral di Universitas Moulay Ismail Meknes.

Seminar dengan moderator Hanif Fatkhurrahman, mahasiswa S1 di Univ Ibnu Tofail Kenitra-Maroko, mengundang antusias peserta yang terdiri dari staf KBRI Rabat, masyarakat Indonesia dan mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Maroko.

Ketua Panitia Seminar, Burhan Ali dalam sambutan pembukaannya menyampaikan, Hardiknas sebagai momentum untuk mengingatkan betapa pentingnya pendidikan demi masa depan yang lebih cerah.

Tingkat kemajuan suatu bangsa dan negara bisa diukur melalui tingkat kesadaran pendidikan negara bersangkutan, ujarnya.

Sesuai dengan tema yang diusung pemerintah pada Hardiknas tahun ini yaitu “Pendidikan Sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa: Raih Prestasi Junjung Tinggi Budi Pekerti”, ia mengajak civitas akademika untuk menyikapi ilmu pengetahuan sebagai perangkat ke arah yang positif, bukan untuk memunculkan prilaku destruktif, anarkis dan radikalis seperti terjadi belakangan ini.

Pembicara pertama banyak menyinggung tentang kedudukan dan peran guru sebagai pendidik dan pembimbing baik dalam instansi pendidikan yang bersifat formal maupun peran mereka dalam masyarakat sehari-hari.

Sedangkan pembicara kedua lebih banyak menitikberatkan presentasinya terhadap status seorang guru sebagai profesi dan panggilan jiwa.

Seminar ini mendapat sambutan baik dengan antusiasme para peserta saat sesi tanya jawab, dan juga para pembicara yang hadir dapat menyampaikan materinya dengan bahasa yang lugas dan mudah difahami oleh seluruh peserta.(ZG)

 
 

Tag: , , , ,

Renungan di Sisa Umur Yang Ada

22 tahun yang lalu, ku teringat bayi kecil yang masih lemah dalam dekapan hangat sang ibu, jeritan tangis bayi kecil itu membuat orang-orang disekelilingnya tersenyum bahagia, tangan kecil yang masih mengepal, dan tubuh mungil yang imut terbalut kehangatan selimut, begitu cerita yang ku dengar dari kakak-kakakku tentanng diriku.
Masa kecil ku berlalu dengan kehangatan bersama dua kakak laki-laki dan empat mbakku. karena ku yang paling kecil, semua perhatian membuatku bahagia. hingga ku ditemani oleh dua adik perempuanku. dan kini saatnya ku yang menaruh perhatian buat adik2ku yang ku sayangi.
Hingga waktu berjalan begitu cepat, ku duduk di bangku MAN. disana selama tiga tahun kulalui hari-hariku dengan kebersamaan, dengan keindahan, canda dan tawa dengan sahabat-sahabat yang takkan pernah kulupakan, karena merekalah yang telah banyak mengajariku, dari mereka ku menyerap bagaimana ku harus ada dan untuk apa aku ada.
namun sekali lagi ku melihat waktu yang terus  berlalu, ku harus terpisahkan dari sahabat-sahabatku itu, kini ku pindah di dunia yang jauh diujung barat afrika, tempat matahaari terbenam, memulai kehidupan dengan kemandirian dan kedewasaan, menguji kesabaran dan kemampuan. dalam kesepian dan kesunyian seperti dalam pertapaan sanng sufi. Dan ternyata disinilah ku menemukan jalan hidupku yang baru. ke menemukan kembali sahabat-sahabat yang mengenalku, yang peduli satu sama lain, ku menemukan kelurga baru, keluarga yang tidak mengenal suku dan budaya, adat dan bahasa.
Ku sadar, ketika ku melihat waktu kembali, pasti kita akan menemukan lagi langkah hidup kita, tujuan hidup kita. ntah dimana kita akan terdampar setelah ini.
22 tahun, bukanlah hal yang pendek, namun setelah kita menjalani serasa cepat sekali. dan ku sadar semakin banyak waktu  yang kulalui, semakin dekatlah pintu yang menunggu kita, yang mana setiap orang pasti melaluinya.
Harapan dan doa senantiasa di panjatkan untuk kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang, renungan tak lupa dituangkan untuk muhasabatun nufus yang perlu diingat.
Hari ini ada yang bertambah dan ada yang berkurang.
Bertambah, ya aku bertambah tua.
Berkurang, ya jatah umurku di dunia ini semakin berkurang.
Orang bilang “menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa adalah sebuah pilihan”.
Sebenarnya hari ini tidak ada yang spesial – bahkan terbilang sama – seperti hari – hari lainnya. Hanya saja hari ini banyak teman dan rekan yang memberi selamat ulang tahun,
Kembali aku merenung, apa saja yang sudah kulakukan di tahun lalu dan apa yang akan kulakukan di tahun depan.
Sejenak aku ingat sebuah filosofi :
MENIRULAH PRIBADI ORANG KAMU KAGUMI,
KARENA MENIRU ADALAH JALAN  TERPENDEK UNTUK MENJADIKAN DIRI  KAMU SAMA DENGAN PRIBADI YANG KAMU  KAGUMI.
(Mario Teguh)
Kali ini, ijinkan aku meniru Mario saat berulang tahun, yakni menyampaikan perenungan singkatku atas hidupku, semoga dapat memberikan kekuatan bagi yang merasa lemah, jalan bagi yang merasa buntu, dan harapan bagi yang merasa hilang harapan.
Pada hari ulang tahun yang tak lain adalah jatah hidup kita sudah dikurangin oleh sang Pemilik ruh dan raga ini.jatah oksigen dikurangin dan semuanya juga sudah berkurang. Ini berarti kita semakin dekat dengan kematian dan calon mayit..iya…kita semakin dekat dengan alam barzah.
Banyak orang yang sebenarnya tau akan makna hari itu,tapi karena dunia adalah segalanya baginya maka dia lupa klo dia sebentar lagi akan “pulang kampung” halaman yang sesungguhnya.Bukankah klo pulang kampung kita harus ada bekal?
apakah kita sudah mempersiapkannya?
ada sebagian orang yang sudah mempersiapkan hal ini jauh-jauh hari agar mereka tidak ketinggaln kereta dan tidak menyesal dikemudian hari yang dimana pada saat itu tidak ada lagi kesempatan untuk kedua kalinya.
Bukankah kita harus bersyukur dengan adanya ultah kita jd semakin dekat dengan mati? dan dengan adanya ULTAH berarti Allah udah ngasi kita kesempatan sampai saat ini? tapi apakah kita sudah memamfaatkannya? apakah kita sudah mempersembahkan yang terbaik? sudahkah?apakah kita akan selalu minta dipanjangkan umur?Padahal umur kita sudah ditetapkan dan tidak akan diundur-undur lagi?
Sesungguhnya hitungan nafas telah ditetapkan, hitungan detik telah diperhitungkan.
Sebodoh bodohnya manusia adalah yang diberi modal tapi tidak digunakannya,
Sebodoh bodohnya manusia adalah yang diberi nafas tapi disia siakannya,
sebodoh bodohnya manusia adalah yang diberi waktu tapi disia siakannya.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10/06/2011 in Burhan Ali, Nasihat, Renungan

 

Tag: , , ,

Waktu Pasti Berlalu

Kita semua tahu, bahwa bumi ini akan terus berputar, dan matahari pun akan terus berjalan, siang dan malam pun akan terus bergantian, mereka bergerak secara teratur pada tempatnya, sampai waktu akhir tiba.

Dan kita juga tahu, bahwa waktu itu akan terus berjalan, dari detik ke detik, dari menit ke menit, dari jam ke jam,dan seterusnya. Ia bergerak secara teratur , waktu tak akan berjalan cepat ataupun berjalan lambat, tak akan berbertambah ataupun juga berkurang, tapi mengapa banyak orang bilang tak punya waktu…!

Seperti halnya benang emas yang begitu berharga demikian pula setiap menit dan detik dari waktu kita, yang tak akan kembali walau satu detik pun.

Banyak orang bilang tentang waktu:
Orang Barat bilang: ”Time is money” , maka bagi siapa saja yang menyia-nyiakan waktu maka ia termasuk orang yang mendapat kerugian.
Orang Arab bilang: “الوقت كالسيف” waktu itu pedang, maka bagi siapa saja yang tidak bisa menggunakan waktu untuk memotong, maka ia akan terpotong oleh waktu.
Ahli Kesehatan bilang: ” waktu adalah obat”, maka orang yang menyia-nyiakan waktu maka itulah orang yang terkena penyakit.
Ahli Pendidikan bilang: “waktu adalah ilmu” bagi siapa saja yang meninggalkan waktu, maka itulah orang yang bodoh.
Tapi orang yang bodoh juga bilang; ” waktu adalah jam!!!” karena orang bodoh tak tahu waktu kalo ngga melihat jam.
Kalo orang pintar bilang: ”orang pintar minum tolak angin”, ngga tahu apa maksudnya tuh?.

Kalo Orang Indonesia banyak yang bilang: ” waktu adalah waktu”

Tapi Ungu juga bilang:”Dan demi waktu….”
Begitulah banyak orang bilang tentang waktu,dan kita semua tahu tentang waktu, terserah mau bagaimana kita memaknai waktu. Tapi memang benar secara alamiah, peredaran waktu akan terus berlangsung, sama sepertihalnya dengan air pantai yang selalu pasang surut tanpa menunggu komando, karena itu siapa pun harus bisa memanfaatkan peluang yang di tawarkan dengan sebaik-baiknya.
Tapi pesan saya sih Cuma:”never put off till tomorrow what you can do today”
Jangan menunggu hingga hari esok apa yang anda dapat lakukan hari ini, “tomorrow never comes”, hari esok tak akan pernah datang, karena kita hidup hanya pada masa sekarang(hari ini), hari esok dan hari kemarin hanya ada dalam pikiran manusia. Oleh karena itu, apa yang bisa anda lakukan hari ini, lakukanlah sebaik-baiknya, karena esok sebenarnya tak pernah ada.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10/06/2011 in Burhan Ali, Nasihat, Renungan

 

Tag: , ,

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.